Yaa rabbi warhamnaa jamii'a,
Yaa rabbi kulla muslim.
Yaa rabbi waghfir likullli mudznib,
Yaa rabbi laa taqtha' rajaana.
Ya Allah Tuhan kami, kasih sayangilah kami semua,
Ya Allah Tuhan kami, kasih sayangilah setiap orang muslim.
Ya Allah Tuhan kami, ampunilah setiap orang muslim yang berdosa,
Ya Allah Tuhan kami, janganlah Engkau putuskan harapan kami.
Penciptaan Ruh Nabi Muhammad
Saat Allah Subhanahu wa Ta'ala mengeluarkan keputusan Ilahiah untuk mewujudkan makhluq, Ia pun menciptakan Haqiqat Muhammadaniyyah (Realitas Muhammad –Nuur Muhammad) dari Cahaya-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian menciptakan dari Haqiqat ini keseluruhan alam, baik alam atas maupun bawah. Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian memberitahu Muhammad akan Kenabiannya, sementara saat itu Adam masih belum berbentuk apa-apa kecuali berupa ruh dan badan. Kemudian darinya (dari Muhammad) keluar tercipta sumber-sumber dari ruh, yang membuat beliau lebih luhur dibandingkan seluruh makhluq ciptaan lainnya, dan menjadikannya pula ayah dari semua makhluq yang wujud.
Dalam Sahih Muslim, Nabi SAW bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan tahun di sisi Allah adalah berbeda dari tahun manusia,) sebelum Ia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Umm al-Kitab (Induk Kitab), adalah bahwa Muhammad Saw adalah Penutup para Nabi. Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahwa Nabi Saw bersabda, "Menurut Allah, aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.
Maysara al-Dhabbi ra berkata bahwa ia bertanya pada Nabi Saw, "Ya Rasulullah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?" Beliau menjawab, "Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya."
Suhail bin Salih Al-Hamadani berkata, "Aku bertanya pada Abu Ja'far Muhammad ibn `Ali Ra, "Bagaimanakah Nabi Muhammad Saw bisa mendahului nabi-nabi lain sedangkan beliau akan diutus paling akhir?" Abu Ja'far Ra menjawab, bahwa ketika Allah menciptakan anak-anak Adam (manusia) dan menyuruh mereka bersaksi tentang Diri-Nya (menjawab pertanyaan-Nya, `Bukankah Aku ini Tuhanmu?'), Muhammad Saw lah yang pertama menjawab `Ya!' Karena itu, beliau mendahului seluruh nabi-nabi, sekalipun beliau diutus paling akhir."
Al-Syaikh Taqiyu d-Diin Al-Subki mengomentari hadits ini dengan mengatakan bahwa karena Allah Ta'ala menciptakan arwah (jamak dari ruh) sebelum tubuh fisik, perkataan Muhammad Saw.
"Aku adalah seorang Nabi," ini mengacu pada ruh suci beliau, mengacu pada hakikat beliau; dan akal pikiran kita tak mampu memahami hakikat-hakikat ini. Tak seorang pun memahaminya kecuali Dia yang menciptakannya, dan mereka yang telah Allah dukung dengan Nur Ilahiah.
Jadi, Allah Swt telah mengaruniakan kenabian pada ruh Nabi Saw bahkan sebelum penciptaan Adam; yang Ia telah ciptakan ruh itu, dan Ia limpahkan barakah tak terhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad Saw pada `Arasy Ilahiah, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan- Nya yang tinggi bagi beliau (sall-Allahu 'alayhi wasallam).
Haqiqat Nabi Muhammad Saw telah wujud sejak saat itu, meski tubuh ragawinya baru diciptakan kemudian. Al Syi'bi meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya, "Ya Rasulullah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?" Beliau menjawab, "ketika Adam masih di antara ruh dan badannya, ketika janji dibuat atasku." Karena itulah, beliau Saw adalah yang pertama diciptakan di antara para Nabi, dan yang terakhir diutus.
Diriwayatkan bahwa Nabi Saw adalah satu-satunya yang diciptakan keluar dari sulbi Adam sebelum ruh Adam ditiupkan pada badannya, karena beliau Saw adalah sebab dari diciptakannya manusia, beliau Saw adalah junjungan mereka, substansi mereka, ekstraksi mereka, dan mahkota dari kalung mereka.
Ali ibn Abi Thalib karram-Allahu wajhahu dan Ibn `Abbas radiy-Allahu 'anhu keduanya meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda, "Allah tak pernah mengutus seorang nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan sang Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad Saw : seandainya Muhammad Saw diutus di masa hidup sang Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau Saw dan mendukung beliau Saw, dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.
Diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT menciptakan Nur Nabi kita Muhammad Saw, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan padanya untuk memandang pada nur-nur dari Nabi-nabi lainnya. Cahaya beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Allah SWT membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata, "Wahai, Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya?" Allah Subhanahu wa Ta'ala menjawab, "Ini adalah cahaya dari Muhammad ibn `Abdullah; jika kalian beriman padanya akan Kujadikan kalian sebagai nabi-nabi." Mereka menjawab, "Kami beriman padanya dan pada kenabiannya." Allah berfirman, "Apakah Aku menjadi saksimu?" Mereka menjawab, "Ya." Allah berfirman, "Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai mengikat dirimu?" Mereka menjawab, "Kami setuju." Allah berfirman, "Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu."(QS 3:81).
Inilah makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. "Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: `Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hukmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.'" (QS 3:81).
Syaikh Taqiyyud Diin al-Subki mengatakan, "Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi Saw dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-nabi lain itu, maka risalah da'wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Karena itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau Saw.
Jadi, sabda sayyi dina Muhammad Saw, "Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia," bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya. Hal ini menjelaskan lebih jauh perkataan beliau, "Aku adalah seorang Nabi ketika Adam masih di antara ruh dan badannya." Berpijak dari hal ini, Muhammad Saw adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isra' Mi'raj, saat mana para Nabi melakukan salat berjama'ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau.
Allahumma salli afdalas salaati 'ala habiibikal Mushtofa Sayyi dina Muhammadin wa 'ala aalihi wasahbihi wasallaam. |